Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar


      Sejak dari pendidikan dasar sampai kuliah, kita sering mendengarkan penjelasan tentang bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Pengertian tersebut tidak sepenuhnya salah, namun kurang lengkap, sehingga orang akan menilai bahwa seseorang telah menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar jika sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dan KBBI, tidaklah demikian (nehemiap.blogspot.com).

       Kita mengetahui konsep tentang ragam bahasa yakni ada ragam formal dan ragam informal. Ragam formal biasa juga disebut dengan ragam resmi yakni penggunan bahasa dalam situasi resmi, sedangkan ragam informal/nonformal yang biasa juga disebut dengan ragam tak resmi yakni penggunan bahasa dalam situasi tidak resmi. Dalam situasi formal atau resmi ini bahasa Indonesia yang digunakan seperti dalam jurnal ilmiah, karya tulis ilmiah, surat resmi, pidato resmi, dan sebagainya, semua bentuk komunikasi harus sesuai dengan EYD, sedangkan dalam situasi informal digunakan bahasa Indonesia yang digunakan seperti dalam pembicaraan antara penjual dan pembeli di pasar, bentuk komunikasi tidak harus sesuai dengan EYD. Seperti halnya saat kita dalam berpakaian, tentu saja kita akan memakai setelan baju sesuai dengan acara yang akan kita ikuti, kita akan memakai seragam sekolah saat kita sekolah, baju renang saat berenang, baju kondangan (baju batik misalnya) saat kita menghadiri resepsi pernikahan, baju santai (kaos) saat santai, baju tidur saat kita tidur, bahkan (laki-laki) akan menambahkan dasi yang bagus pada saat menghadiri pertemuan resmi, dan sebagainya.

       Jadi pengertian Bahasa Indonesia yang baik dan benar ialah bahasa Indonesia yang digunakan menurut medianya, situasinya, penuturnya, bidang persoalannya. Kita tidak cukup menggunakan media lisan, tetapi media tulis ketika kita memberitahukan ijin untuk tidak masuk kuliah karena sakit. Media ini lebih efektif, jelas, dan dapat dipercaya karena “hitam di atas putih” atas nama orang tua atau dokter. Demikian halnya sebaliknya ada saat-saat dimana kita jauh lebih tepat menggunakan media lisan disbanding media tulis, misalnya saat kuliah tatap muka, wawancara, pidato, ngobrol, dan sebagainya.

        Jika situasinya formal maka bahasa Indonesia yang digunakan harus sesuai dengan EYD dan KBBI, namun jika situasinya nonformal bahasa Indonesia tidak harus sesuai dengan EYD dan KBBI. Maksudnya, tidak mungkin seseorang saat di pasar menggunakan bahasa yang sesuai dengan aturan EYD dan KBBI, akan terlihat aneh, sebaliknya tidak mungkin juga seorang presiden menyampaikan pidato resmi atau mahasiswa yang menulis Karya Ilmiah dengan bahasa sehari-hari. Bahasa gaul atau bahasa alay merupakan salah satu ragam bahasa Indonesia. Bahasa alay akan baik dan benar jika digunakan dalam situasi nonformal dalam komunitas tertentu, dalam jejaring sosial facebook atau twitter misalnya, namun akan salah saat bahasa alay masuk dalam ranah formal.

       Jika penutur dan mitra tuturnya memiliki hubungan yang akrab, maka bahasa yang digunakan pun akan berbeda ketika meraka kurang akrab, bahkan tidak akrab. Ketidakakraban antara penutur dan mitra tutur membuat jarak bahasa, artinya penutur dan mitra tutur akan menggunakan ragam bahasa yang lebih formal, bukan ragam sehari-hari. Jika kita bandingkan dalam bahasa Jawa, sangat dimungkinkan seorang penutur akan menggunakan ragam kromo saat bertemu dengan mitra tutur yang tidak akrab dengannya, namun akan menggunakan ragam ngoko jika hubungan keduanya lebih akrab. Dalam bahasa Indonesia tidak memiliki tingkat tutur dalam bahasanya, namun ragam bahasa yang dipengaruhi oleh media, situasi, penutur, dan bidang persoalan.

       Sangat dimungkinkan seseorang ketika dalam pembicaraan (ragam) resmi, muncul bentuk-bentuk bahasa nonformal. Misalnya saja seorang pengajar (dosen) yang sedang menyampaikan materinya tidak mungkin hanya dengan bahasa resmi saja, pasti akan muncul bentuk-bentuk nonformal dalam prakteknya. Bahkan tidak hanya ragam tidak resmi, bentuk-bentuk campur kode (campur dengan bahasa lain) dan alih kode (alih dalam bahasa lain) juga sering muncul. Dalam hal ini tujuan pengajaran yang hendak dicapai, sehingga mahasiswa dapat menangkap dan memahami materi yang disampaikan, ini yang disebut dengan “tujuan didaktis”.

TUGAS 1

PROGSUS VI

AKADEMI ANALIS KESEHATAN NASIONAL SURAKARTA

Jelaskan dengan baik, luas dengan contoh-contoh yang mendukung, sertai pendapat Anda dengan fakta, gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar untuk menjawab pertanyaan berikut!

1)    Bagaimanakah penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar itu? Jelaskan dengan contoh (jangan dari artikel tersebut di atas, cari contoh lain)!

2)    Mengapa pada kenyataannya dosen saat mengajar yang notabene adalah situasi formal masih menggunakan bahasa Indonesia ragam nonformal?

3)    Bagaimanakah penggunaan bahasa dalam situasi ilmiah, baik tulis maupun lisan?

4)    Bagamana jika kita tidak tepat menggunakan bahasa Indonesia baik dalam situasi formal atau pun non formal?

5)    Pentingkah mata kuliah bahasa Indonesia pada jenjang kuliah? Jelaskan!

Mengetahui,

Nehemia Purnanto, S.S.

DIKUMPULKAN HARDCOPY PALING LAMA SAAT UJIAN TENGAH SEMESTER KEPADA IBU EVELIN SUSIANAWATI

(BAGIAN AKADEMIK)!

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s