Diksi/ Pilihan Kata


 

DIKSI/PILIHAN KATA

Pemahaman    terhadap  suatu  bahasa  tidak  dapat  dilepaskan  dari pemahaman  terhadap kata-kata dan kaidah yang  terdapat dalam  bahasa tersebut.  Menggunakan  bahasa  pada  hakikatnya  adalah  memakai kata-kata  dan  kaidah  yang  berlaku  dalam  bahasa  itu. Dengan  demikian,  agar dapat  berbahasa  dengan  baik,  benar,  dan  cermat,  kita  harus memperhatikan  pemakaian  kata  dan  kaidah  yang  terdapat  di  dalamnya. Hal  ini  berlaku  bagi  semua  bahasa,  termasuk  di  dalamnya  bahasa Indonesia.

a)    Aspek Kata

Setiap kata terdiri atas dua aspek, yaitu bentuk dan makna. Bentuk merupakan  sesuatu  yang  dapat  diinderai,  dilihat,  atau  didengar. Makna merupakan  sesuatu  yang  dapat  menimbulkan  reaksi   dalam  pikiran  kita karena  rangsangan  bentuk.  Apabila  ada  seseorang  berteriak  Banjir!, dalam pikiran kita timbul reaksi karena kita mengetahui arti kata tersebut. Karena  itu,  pikiran  kita  akan menyatakan  ada  gerakan  air  deras,  besar, dan meluas secara tiba–tiba. Jadi, yang dimaksud bentuk adalah semacam kata  banjir,  sedangkan  makna  adalah  reaksi  yang  timbul  dalam  pikiran kita. Reaksi  tersebut  tentu akan berbeda–beda pada  setiap orang. Hal  ini bergantung pada tingkat pemahaman setiap orang akan bentuk dan makna suatu kata.

Untuk memahami kata, kita harus mengetahui  bentuk dan makna kata  itu  sekaligus.  Pemahaman  terhadap  salah  satu  aspek  saja   tidak menjamin pemahaman terhadap kata. Seseorang yang mengetahui bentuk atau  rupa  suatu benda  belum  tentu mengetahui  namanya. Demikian pula halnya,  seseorang  yang  mengetahui  namanya  saja  belum  tentu mengetahui bentuk atau rupa benda itu. Jadi, pemahaman terhadap bentuk dan makna kata merupakan syarat bagi pemahaman terhadap kata.

b)    Penggunaan Kata

Sebagaimana  dikemukakan,  untuk  dapat berbahasa  dengan  baik, benar, dan cermat, kita harus memperhatikan pemakaian kata dan kaidah bahasa  yang  berlaku  pada  bahasa  yang  kita  gunakan.  Misalnya,  kita menggunakan bahasa  Indonesia, maka yang harus kita perhatikan adalah kata dan kaidah bahasa Indonesia.

Dalam  penggunaan  kata,  selain  harus  memperhatikan  faktor kebahasaan,  kita  pun  harus mempertimbangkan  berbagai    faktor  di  luar kebahasaan.  Faktor  tersebut  sangat  berpengaruh  pada  penggunaan  kata karena  kata  merupakan  tempat  menampung  ide.  Dalam  kaitan  ini,  kita harus memperhatikan ketepatan kata yang mengandung gagasan atau  ide yang kita sampaikan, kemudian kesesuaian kata dengan situasi bicara dan kondisi pendengar atau pembaca

1)    Ketepatan Pilihan Kata

Bahasa  sebagai  alat  komunikasi  berfungsi  untuk  menyampaikan gagasan  atau  ide  pembicara  kepada  pendengar  atau  penulis  kepada pembaca. Pendengar atau pembaca akan dapat menerima gagasan atau ide yang  disampaikan  pembicara  atau  penulis  apabila  pilihan  kata   yang mengandung  gagasan  dimaksud  tepat. Pilihan  kata  yang  tidak  tepat  dari pembicara  atau  penulis  dapat  mengakibatkan  gagasan  atau  ide  yang disampaikannya  tidak  dapat  diterima  dengan  baik  oleh  pendengar  atau pembaca. Oleh karena itu, kita perlu memperhatikan hal–hal berikut: kata bermakna denotatif dan konotatif, kata bersinonim, kata umum dan kata khusus, dan kata yang mengalami perubahan makna.

  1. Kata Bermakna Denotatif dan Bermakna Konotatif

Makna  denotatif  adalah  makna  yang  menunjukkan  adanya hubungan  konsep  dengan  kenyataan. Makna  ini merupakan makna  yang lugas,  makna  apa  adanya.  Makna   ini  bukan  makna  kiasan  atau perumpamaan. Sebaliknya, makna konotatif atau asosiatif muncul akibat asosiasi perasaan atau pengalaman kita terhadap apa yang diucapkan atau apa  yang  didengar.  Makna  konotatif  dapat  muncul  di  samping  makna denotatif suatu kata. Dalam  bahasa  tulisan  ragam  ilmiah  dan  formal  yang  harus  kita  gunakan  adalah  kata–kata  denotatif  agar  keobjektifan  bisa  tercapai  dan mudah dipahami tanpa adanya asosiasi. Hal  ini perlu diperhatikan karena apabila  terdapat  kata  asosiatif,  pemahaman  pembaca  atau  pendengar sangat  subjektif  dan  berlainan.  Kita  bandingkan  kata perempuan  dan pandai dalam kalimat berikut.

  • Perempuan itu ibu saya.
  • Ah,dasar perempuan.
  • Saudara  saya  termasuk orang pandai dalam memotivasi orang  lain untuk berpikir positif.
  • Karena  keyakinannya,  barang  yang  hilang  itu  ditanyakan  kepada orang pandai yang tinggal di sebuah kota.                                2.Kata Bersinonim

Kata  bersinonim  adalah  kata  yang  memiliki  makna  yang  sama atau hampir sama. Banyak kata bersinonim yang berdenotasi sama, tetapi konotasinya  berbeda.  Akibatnya,  kata–kata  yang  bersinonim  itu  dalam pemakaiannya  tidak  sepenuhnya dapat  saling  menggantikan.  Kata–kata mati,  meninggal,  wafat,  gugur,  mangkat,  mampus,   dan  berpulang memiliki makna denotasi yang sama, yaitu nyawa lepas dari raga, tetapi makna konotasinya  berbeda. Relakah Saudara kepada orang yang  sangat Saudara  hormati  dan  Saudara  cintai  mengatakan  Dia  telah  mampus kemarin,  sebaliknya  kepada  binatang  Saudara  mengatakan Kambing  itu telah wafat kemarin. Dengan  contoh  tadi  jelaslah  bagi  kita  bahwa  kata  dapat  memiliki kekhususan  dalam  pemakaiannya  walaupun  kata  yang  digunakan memiliki makna denotasi yang sama.ata

2. Bermakna Umum dan Bermakna Khusus.

Dalam  bahasa  sehari–hari kita  sering mendengar  atau membaca kata yang bermakna kabur akibat kandungan maknanya terlalu luas. Kata seperti  itu  sering mengganggu kelancaran  dalam  berkomunikasi. Karena itu, agar komunikasi berlangsung dengan baik, kita harus dengan cermat menggunakan  kata  yang  bermakna  umum  dan  bermakna  khusus  secara tepat.  Jika  tidak,  komunikasi  terhambat  dan  kesalahpahaman  mungkin muncul.

Kata  bermakna  umum  mencakup  kata  bermakna  khusus.  Kata bermakna umum dapat menjadi kata bermakna khusus  jika dibatasi. Kata bermakna umum digunakan dalam mengungkapkan gagasan yang bersifat umum,  sedangkan  kata  bermakna khusus  digunakan  untuk  menyatakan gagasan yang bersifat khusus atau terbatas.

  • Dia memiliki kendaraan
  • Dia memiliki mobil
  • Dia memiliki sedan.

Kata  sedan  dirasakan  lebih  khusus  daripada  kata  mobil.  Kata mobil  lebih  khusus  daripada  kata  kendaraan.  Demikian  pula  halnya dalam kata beruntun ini binatang, binatang peliharaan, kucing.

3.Kata yang Mengalami Perubahan Makna

Sejarah  perkembangan  kehidupan  manusia  dapat  memengaruhi sejarah perkembangan makna kata. Dalam  bahasa  Indonesia,  juga dalam bahasa  lain, terdapat kata yang mengalami penyempitan makna, peluasan makna, perubahan makna. Kata  sarjana  dan  pendeta  merupakan  contoh  kata  yang mengalami  penyempitan  makna.  Kata  sarjana  semula  digunakan  untuk menyebut semua cendekiawan. Kini kata tersebut hanya digunakan untuk cendekiawan yang telah menamatkan pendidikannya di perguruan tinggi. Kata  pendeta  semula  memiliki  arti  orang  yang  berilmu,  kini  hanya  digunakan untuk menyebut guru/pemimpin agama Kristen. Kata  berlayar,  bapak,  ibu,  saudara,   dan  putra–putri merupakan contoh  kata  yang  mengalami  perluasan  makna.  Kata  berlayar  semula digunakan  dengan  makna  bergerak  di  laut  menggunakan perahu  layar. Kini maknanya menjadi  luas, yaitu bepergian di atas  laut, baik memakai perahu layar maupun memakai alat transportasi lain. Kata bapak, ibu, dan saudara  semula  hanya  digunakan  dalam hubungan  kekerabatan.  Kini ketiga kata tersebut digunakan  juga untuk menyebut atau menyapa orang lain yang bukan keluarga, bukan kerabat. Begitu pula halnya kata putra-putri. Semula  kata  ini  hanya  digunakan  untuk menyebut  anak  raja. Kini anak siapa pun berhak dan boleh disebut  putra –putri. Demi  ketepatan  pilihan   kata,  kita  pun  harus  berhati –hati menggunakan  kata–kata  yang  berejaan mirip  seperti  kata bahwa,  bawa, dan bawah; gaji dan gajih; sangsi dan sanksi. Kita pun harus berhati–hati menggunakan  ungkapan  tertentu  seperti  bercerita  tentang,  bukan menceritakan  tentang;  sesuai  dengan,  bukan  sesuai;  bergantung  pada atau  tergantung  pada,  bukan  tergantung  atau  tergantung  dari  (bandingkan dengan depend on dan hang ondalam bahasa Inggris).

2)    Kesesuaian Pilihan Kata

Kesesuaian  pilihan  kata  berkaitan  dengan  pertimbangan pengungkapan gagasan atau ide dengan memperhatikan situasi bicara dan kondisi pendengar atau pembaca. Dalam pembicaraan yang bersifat resmi atau  formal, kita harus menggunakan kata–kata baku. Sebaliknya, dalam pembicaraan  tak  resmi  atau  santai,  kita  tidak  dituntut  berbicara  atau menulis dengan menggunakan kata–kata baku untuk menjaga keakraban.

Faktor  kepada  siapa  kita  berbicara  atau  kita  menulis  harus diperhatikan  agar  kata–kata  yang  kita  gunakan  dapat  dipahami  mereka. Pada  saat  kita  berbicara  dengan  masyarakat  awam,  sebaiknya  kita gunakan kata–kata umum  (popular);  jangan kita gunakan kata–kata yang bersifat  ilmiah. Tujuan kita berbicara atau menulis  tentu untuk dipahami orang lain. Jadi, kalau  kita  gunakan  kata–kata  ilmiah,  sedangkan  yang kita  ajak  bicara  tidak  paham,  tentu  yang  kita  sampaikan  tidak  ada gunanya,  percuma.  Sebaliknya,  jika  kita  berbicara  dengan  golongan intelektual,  pejabat,  atau  para  ahli  di  bidang  tertentu,  sebaiknya  kita menggunakan  kita  menggunakan  kata –kata  yang  lebih  akrab  dengan mereka atau kata–kata  ilmiah. Layak diingat bahwa yang termasuk kata–kata ilmiah bukan hanya kata–kata yang berasal dari bahasa asing. Dalam bahasa Indonesia pun banyak sekali kata–kata ilmiah. Agar  kesesuaian  pilihan  kata  dapat  kita  capai,  dalam  berbicara atau menulis kita perlu memperhatikan hal-hal berikut.

  • Dalam situasi resmi, kita gunakan kata-kata baku.
  • Dalam situasi umum, kita gunakan kata-kata umum.
  • Dalam situasi khusus, kita gunakan kata-kata khusus.

  1. Kata Baku dan Tak Baku

Kata  baku  adalah  kata  yang  tidak  bercirikan  bahasa  daerah  atau bahasa asing. Baik dalam penulisan maupun dalam pengucapannya harus bercirikan  bahasa  Indonesia.  Dengan  perkataan  lain,  kata  baku  adalah kata  yang  sesuai  dengan  kaidah mengenai  kata  dalam  bahasa  Indonesia. Kita perhatikan beberapa contoh berikut.

Kata baku

Kata tak baku

paham

nasihat

ijazah

jadwal

kualitas

kuantitas

kuitansi

karier

pasien

imbau

utang

isap

beri

dulu

hakikat

lewat

mengapa

senang

asas

energi

hipotesis

kategori

sistem

metode

teknik

tim

seksi

subunit

pascapanen

antarbagian

semifinal

asusila

caturbidang

ekabahasa

monoloyalitas

supranatural

ekstrakurikuler

faham

nasehat

ijasah

jadual

kwalitas

kwantitas

kwitansi

karir

pasen

himbau

hutang

hisap

kasih

dulunya

hakekat

liwat

kenapa

seneng

azas

enerji

hipotesa

katagori

sistim

metoda

tehnik

team

sie

sub unit

pasca panen

antar bagian

semi final

a susila

catur bidang

eka bahasa

mono loyalitas

supra natural

ekstra kurikuler

 2.  Kata Ilmiah dan Kata Populer

Kata ilmiah adalah kata yang biasa digunakan di   lingkungan ilmuwan dan dunia  pedidikan umumnya. Kata  popular adalah kata yang biasa digunakan di kalangan  masyarakat  umum.  Kita  lihat  beberapa contoh berikut.

Kata Ilmiah        Kata Populer

dampak             akibat

kendala              hambatan

formasi              susunan

frustasi               kecewa

pasien                orang sakit

volume               isi

koma                 sekarat

Dalam pembicaraan di depan umum, sebaiknya kita menggunakan kata–kata popular agar apa yang kita kemukakan dapat dipahami dengan baik  dan mudah.

  1. Kata Percakapan dan Kata/Ungkapan Usang

Kata percakapan biasanya digunakan dalam bahasa  lisan. Kata-kata  ini  umumnya memiliki  kaidah  sendiri  yang  berbeda  dengan  kata–kata  yang digunakan dalam  tulisan. Kata-kata percakapan, di antaranya, memiliki  ciri  kedaerahan  (dialek),  tidak  ajeg  menggunakan  kaidah bentukan  kata  dan  sering  menyingkat  kata.  Beberapa  contoh  dapat dikemukakan  di  sini,  misalnya,   nggak,  ngerti,  dapet,  sikon,  gini,  gitu. Kata-kata  percakapan  sebaiknya  dihindarkan  dalam  tulisan  atau pembicaraan resmi karena dapat mengganggu keresmian atau keilmiahan. Karena itu, berhati-hatilah menggunakan kata percakapan ini. Ungkapan  yang  masih  dipahami  oleh  umum  dapat  digunakan untuk  menghidupkan  suasana  pembicaraan  atau  tulisan. Akan  tetapi, ungkapan  yang  sudah  usang  tidak  lagi  mempunyai  kekuatan  harus dihindarkan karena dapat membosankan dan melemahkan  pembicaraan atau tulisan kita.

 

 TUGAS 3

PROGSUS VI

AKADEMI ANALIS KESEHATAN NASIONAL SURAKARTA

 1.Jelaskan yang dimaksud dengan diksi!

2. Mengapa dalam pembicaraan/penulisan baik resmi atau pun tidak resmi kita pandai-pandai dalam menempatkan kata-kata ilmiah

atau popular? Berikan contoh pemakaiannya!

3. Jelaskan yang dimaksud dengan makna asosiatif! Berikan contohnya?

4. Jelaskan kesesuaian  pilihan  kata  berkaitan  dengan  pertimbangan pengungkapan gagasan atau ide dengan memperhatikan situasi

bicara dan kondisi pendengar atau pembaca?

5.  Mengapa penggunaan kata nggak,  ngerti,  dapet,  sikon,  gini,  gitu dihindari dalam penulisan atau pembicaraan resmi?

DIKUMPULKAN  PALING  LAMA  SAAT  UJIAN  AKHIR SEMESTER

KEPADA IBU EVELYN (BAGIAN AKADEMIK)!

Mengetahui,

Nehemia Purnanto, S.S.

 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s