DIAGNOSIS VIRUS


(Didik Wahyudi, 2013)

Beberapa penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus semakin beragam baik jenis maupun jumlah kasusnya. Ada beberapa jenis penyakit virus yang dahulu sebenarnya sudah bisa diatasi dengan pemberian vaksin, namun setelah beberapa tahun akhirnya muncul kembali kasus infeksi virus tersebut, contoh kasus adalah Penyakit polio yang dahulu sudah bisa diatasi dengan vaksin, namun beberapa kasus akhirnya muncul kembali.  Contoh kasus tersebut menantang beberapa ahli dan teknokrat bidang kesehatan terutama penyakit infeksi untuk selalu meng”update” perkembangan kesehatan di Indonesia.  Seiring dengan perkembangan teknologi, ternyata juga diimbangi dengan perkembangan jenis kasus infeksi virus yang semakin beragam.

Teknik diagnosis infeksi virus beberapa tahun yang lalu dilakukan dengan kultur, dengan teknik in vivo, in ovo dan in vitro.  In vivo dilakukan dengan meninokulasikan virus ke dalam hewan percobaan, kemudian yang diamati adalah symptom yang timbul pada hewan tersebut.  In ovo, dilakukan dengan teknik kultur virus pada telur berembrio, dengan teknik khusus, kemudian setelah inkubasi beberapa waktu bisa diamati reaksi hasil inflamasi infeksi virus pada telur berupa pock. Sedangkan secara In vitro baru beberapa waktu terakhir ini berkembang dengan sangat pesat.  Teknik kultur ini menggunakan media biakan sel hidup, yang biasanya dilakukan dengan meng”ekstrak” ginjal kera atau embrio ayam.  Dengan menggunakan teknik pembiatan media maka akan didapatkan biaskan sel monolayer untuk mengkulturkan virus, indikator adanya pertumbuhan virus biasanya dilakukan dengan melihat keberadaan plaque pada permukaan media.

Contoh beberapa teknik kultur secara invivo, yaitu virus polio, menggunakan kera sebagai hewan percogbaan , cara penyuntikannya melalui Intra cerebral (ke dalam otak), Intra spinal ( ke dalam sumsum tulang belakang), intra nasal (diteteskan ke dalam hidung), Intra musculair (disuntikkan ke dalam otot paha).  Jika 2 minggu setelah penyuntikan kera lumpuh, membuktikan adanya virus polio.

Identifikasi Virus rabies, menggunakan tikus putih dewasa yang disuntik secara intra cerebral.  Pada waktu 1 sampai 2 minggu, tikus putih tersebut akan sakit, bulunya rontok dan kemudian mati.  Virus dengue, menggunakan bayi tikus berumur 1 – 3 hari suntikan secara intra cerebral, dan sub cutan darah yang diperiksa.  Setelah 7 – 10 hari tikus akan kejang-kejang atau lemas kemudian mati, maka darah tadi mengandung virus dengue.  Virus Q fever, menggunakan marmot jantan disuntik secara intra peritoneal dengan sputum, darah, atau urine.  Setelah 1 – 2 minggu, skrotumnya diperiksa, jika skrotum marmot membengkak, dan skrotum memerah dan penuh cairan, ini bukti bahwa bahan tersebut mengandung virus Q fever.

Seiring dengan perkembangan teknologi, maka diagnosis penyakit virus menggunakan beberapa teknik yang lebih modern, melalui beberapa pendekatan antara lain dengan deteksi antigen virus, melalui berbagai pemeriksaan, hal ini juga sering rumit dan belum dapat dilaksanakan di setiap laboratorium. Pemeriksaan ini menggunakan basic biologi molekuler dan teknik hibridisasi molekuler, antigen dan diagnosis protein specific, membutuhkan pengetahuan dan pengalaman serta ketrampilan di laboratorium.  Teknik diagnosis yang lebih banyak digunakan adalah dengan deteksi genom virus, cara ini bisa dilakukan dengan beberapa teknik, antara lain dengan RNA-Polyacrylamide gel Latex, hibridisasi genom, dan amplifikasi genom dengan reaksi Polymerase Chain Reaction (PCR). Untuk keperluan lebih lanjut berhubungan dengan identifikasi dan deteksi adanya mutasi menggunakan teknik squensing DNA.  Cara yang paling popular untuk identifikasi virus pada masa ini adalah dengan menggunakan uji immunologi serologi, antara lain dengan melihat respon abtibodi (IgM dan IgG). Juga pemeriksaan adanya peningkatan titer dengan Tes ikatan Komplemen (Complement Fixation Test = CFT), Tes Aglutinasi, Tes Penghambatan Hemaglutinasi (HI), Tes Presipitasi, Tes Netralisasi, Fluorescence Antibody Tes (FAT), Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay (ELISA), Radio Immuno Assay (RIA), Counter Immuno Elektroforesis (CIE),  immunoflourecent / Immunohistokimia Enzim.

Pemilihan teknik diagnosis unutk virus tentu saja tergantung dari tujuan diagnosisnya, apakah untuk deteksi keberadaan virus, keperluan epidemiologi, keperluan monitoring prognosis penyakit infeksi, pengujian antiretroviral, ataupun untuk penelitian.

TUGAS UNTUK MAHASISWA REGULER C AAK NASIONAL:

TUGAS I :       Jelaskan mengapa ada beberapa penyakit infeksi yang disebabkan virus, yang dahulu sudah bisa diatasi denga pemberian vaksin, kemudian kini penyakit tersebut muncul kembali, meskipun beberapa sudah melakukan vaksin? Uraikan dari beberapa sudut pandang dengan disertai contoh kasus riil yang terjadi di Indonesia.

TUGAS II :      Ada beberapa teknik pemeriksaan yang berbasis serologis untuk pemeriksaan virus antara lain Tes ikatan Komplemen (CFT), Tes Aglutinasi, Tes Penghambatan Hemaglutinasi (HI), Tes Presipitasi, Tes Netralisasi, Fluorescence Antibody Tes (FAT), ELISA, Radio Immuno Assay (RIA), Counter Immuno Elektroforesis (CIE),  immunoflourecent / Immunohistokimia Enzim. Jelaskan masing-masing prinsip / konsep dasar dari pemeriksaan tersebut!

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s